Objek Wisata Goa Pancur Kayen Pati Jawa Tengah – Tempat Wisata Seru




Gua pancur yang merupakan pesona wisata Kayen, Pati, Jawa Tengah menyimpan sejuta daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Meski kondisinya sekarang ini tidak terawat, tetapi guo pancur bisa menjadi salah satu destinasi objek wisata di Pati yang paling menyenangkan.

Pada Hari Minggu, tim wisata alam Video Arsip mencoba untuk mengunjungi gua pancur yang merupakan benda cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah Kabupaten Pati. Sontak, kami berkomentar: “Ini adalah mutiara Kota Pati yang terpendam!” Dikatakan terpendam karena kondisinya mengenaskan, tak terawat, dan terabaikan.

Bahkan, danau di depan goa pancur yang dulu sangat indah sekarang ini ditumbuhi rerumputan dan alang-alang tinggi sehingga menjadi tidak berfungsi. Gazebo yang dulunya dimanfaatkan untuk melihatnya indahnya danau buatan, persawahan di sekitar Jimbaran, serta perbukitan lereng gunung Kendeng, saat ini berubah menjadi tempat nongkrong anak-anak dan muda-mudi.

Hadirnya komunitas yang mengusung jargon “solidaritas tanpa batas” ini menjadi alternatif non pemerintah dalam merawat, menjaga, dan melestarikan eksistensi gua yang punya kedalaman sekitar 900 meter atau 1 km ini.

Di tengah-tengah kedalaman gua, terdapat sumber mata air hangat yang konon bisa dijadikan media untuk penyembuhan berbagai macam penyakit. Meski tidak terbukti secara klinis-ilmiah, tetapi masyarakat mempercayai khasiat mandi air hangat di gua pancur.

Jangan kaget, karena di dalam perut gua terdapat banyak makhluk yang tidur di siang hari dan berkeliaran di malam hari. Apa itu? Kelelawar! Yaps, betul sekali, Anda mendapat nilai 100.

Di sini, Anda bisa menikmati keindahan alam gua sedalam kurang lebih 1 km apabila Anda ingin menjelajah masuk ke dalamnya. Atau, Anda bisa berfoto selfie ria di depan mulut gua sambil ngobrol.

Di sekitar gua terdapat sejumlah warung yang menyediakan pengunjung saat lapar atau haus. Selain itu, gazebo yang cukup besar bisa dimanfaatkan untuk kongkow atau hang out ria menikmati keindahan alam di sekitar gua pancur.

Nah, jika Anda mau, Anda bisa naik ke atas perbuktian di atas gua. Pada puncak tertinggi, Anda bisa melihat seluruh kota Pati dan laut utara Jawa. Yap, Anda bisa menyaksikan pesona alam Pati dari perbukitan gunung Kendeng. Wow, indah sekali kan?

Stop! Jangan lakukan apabila Anda membawa anak-anak atau bukan untuk kepentingan profesional. Pasalnya, hal ini bisa membahayakan dan bukan menjadi anjuran dari pengelola wisata.

Sebetulnya, kita juga bisa melihat keindahan danau buatan yang bagus. Sayangnya, kini ditumbuhi rerumputan panjang yang rimbun sehingga tidak lagi berfungsi sebagai danau.

Di atap goa menetes air yang tidak ada habisnya. Sejak gua ini ditemukan hingga tahun akhir tahun 2014 dan awal 2015, atap guo yang berupa bebatuan keras ini terus memancarkan butiran-butiran air seperti emben yang kemudian menetes.

Nah, jika Anda ingin sholat atau buang air kecil, sudah disediakan kamar mandi dan mushola. Cukup dengan Rp 2000 saja. Kalau kencing sembarangan bisa berbahaya, loh? Bahaya apanya? Disentil makhluk halus tauk! Hehe. Just kidding.

Selanjutnya, artikel gua pancur ini akan mengulas secara lengkap mengenai sejarah, misteri, cerita, hingga foto dan gambar wisata gua pancur yang terletak di Desa Jimbaran, Kecamatan Kayen, Pati ini.

Misteri gua pancur yang dulu dikisahkan orang-orang sejak penulis artikel masih kecil, konon gua pancur memiliki panjang hingga belasan kilometer sampai ke pantai selatan. Sayangnya, misteri yang diceritakan secara getuk tular ini belum dibuktikan kebenarannya secara empiris.

Karena itu, Mister Tukul Jalan-jalan, [Masih] Dunia Lain, dan Misteri Dua Dunia Trans 7 semestinya wajib mengunjungi lokasi wisata untuk mengungkap misteri di balik gua pancur. Anda pasti berkomentar: “Ah, kampungan sekali sih, pake acara ngundang program televisi Dua Dunia Trans 7 segala!”

“Alih-alih mengungkap mitos di balik cerita gua pancur yang berkembang di masyarakat, sekalian numpang promo wisata biar masuk TV dan ditonton seluruh Indonesia. Begitu maksud saya.”

Sejarah goa yang terletak di Jimbaran, sebuah perkampungan di Kayen, kecamatan yang berada di Pati bagian selatan dan berada di lereng pegunungan Kendheng ini bermula dari penemuan seorang warga bernama Mbah Sarto pada tahun 1932 an.

Suatu ketika, Mbah Sarto mendengar suara percikan air. Setelah ditelusuri, ternyata percikan air berasal dari bukit gunung Kendeng. Berhubung masyarakat sekitar sangat membutuhkan pengairan untuk sawah, akhirnya goa yang ditemukan dilubangi atau dalam bahasa Jawa digancu (dipukuli pakai alat semacam besi tajam keras yang biasa untuk menebang pohon, semacam kapak).

Selanjutnya, Pemkab Pati membuat mulut gua di bagian barat agar pengunjung bisa menikmati keindahannya. Demikian tutur Mbah Sahuri (81), juru kunci gua pancur.

source

Translate »